Potret Penduduk Pegunungan Dieng

budaya dieng

Gambaran sehari-hari Penduduk yang tinggal di daerah pegunungan Dieng dengan segala aktifitas rutinnya ketika pagi hari menjelang. Berbekal anting ( Meals Box ) dan atribut petani ( slendang, jarik, serta topi gunung atau caping ) sebagai senjata melawan terik panas matahari maupun hawa dingin pada saat bekerja di ladang ( sayuran ), potret penduduk lokal inilah yang sering kita jumpai di setiap harinya.

Dataran tinggi dieng yang kaya akan budaya dan alam yang mempesona menawarkan keunikkan tersendiri jika anda berkunjung ke pegunungan dieng jawa tengah. seiring dengan banyaknya permintaan paket wisata ( field trip ) kini kegiatan para petani juga bisa di lakukan bagi wisatawan yang berwisata dengan konsep ( live in ) tinggal di desa wisata dieng kulon banjarnegara. Field trip merupakan bagian dari attraksi wisata budaya selain melihat fenomena anak berambut gembel, atau bermain musik jawa ( gamelan ) serta agro wisata ( petik carica ).

Nah saatnya bagi anda untuk mencoba menjadi petani ala dieng dengan menggunakan pakaian khas penduduk lokal ( minsren ) sekaligus mengenal berbagai kearifan lokal yang ada di dataran tinggi dieng, seperti di malam hari kita akan di ajak bermongen ria ( tradisi api-api ) di tempat khusus seperti pawon ( dapur ) sambil bercengkerama dengan masyarakat lokal ( pemilik penginapan ) atau hunian wisata yang di sebut homestay ( seperti di rumah sendiri ).

Fenomena Alam dan Anak Bajang Dieng

gembel dieng

Misteri dan mitologi bagi sebagian masyarakat di pegunungan memang menjadi kajian menarik bagi para ahli dari sisi ilmiah dengan keberadaan tentang fenomena alam di dataran tinggi dieng yang notabene hingga sekarang ini masih banyak menyimpan segudang pertanyaan masyarakat dieng itu sendiri. Namun sebagian orang di sekitar pegunungan dieng  justru menganggap bahwa anak berambut gembel atau sering di sebut anak bajang mempunyai nilai histori yang sangat luhur dengan tradisi yang masih berjalan di tengah era globalisasi modern.

Misteri tentang rahasia adanya anak berambut gembel atau anak bajang bagi penduduk setempat yang masih di hubungkan dengan tokoh spiritualis di bumi dieng yang konon merupakan salah satu tokoh yang membuat areal pemukiman ( babat alas ) seperti sekarang.

Mitologi dari fenomena anak gembel juga di anggap sebagai simbol positif seperti adanya kemakmuran suatu daerah dimana, daerah yang ada anak-anak gembel kemakmuran daerah tersebut akan terus langgeng bahkan sebagian juga di anggap sebagai bala’ atau ( kesialan ) namun terlepas dari semua itu kenyataan yang ada di sekitar pegunungan dieng bahwa anak gembel tersebut juga bisa menarik kunjungan wisatawan lokal atau pun mancanegara. sehingga ada yang menyebut anak bajang adalah salah satu titipan dewa di gunung dieng. selain dataran tinggi yang dingin ternyata fenomena anak gembel menjadi ikon wisata di jawa tengah .

Seni Tradisional Warokan Khas Dieng

warok jenggot

Hampir semua kesenian di tampilkan terutama di yang berasal dari daerah dataran tinggi dieng dalam sebuah acara tertentu seperti tari warok dieng yang merupakan bagian dari kelompok seni tradisional dan sering ikut berpartisipasi dalam ajang budaya dieng culture festival atau pekan budaya ruwat anak rambut gembel yang di gelar di setiap tahunnya.

Tarian warok di lihat dari sejarahnya banyak di jumpai dan dikembangkan di daerah jawa timur tersebut, kini juga hadir di pegunungan dieng dengan nama kelompok warok jenggot lestari. karena di dataran tinggi dieng anak – anak bajang di identikan dengan berambut gembel begitu juga dengan tarian yang satu ini , mereka juga tidak ketinggalan untuk memakai jambang atau jenggot menyerupai rambut gembel. dari sisi gaya tarian warok di mainkan dengan cara berkelompok , memakai kostum berwarna hitam, serta menggunakan cambuk dan di iringi musik gamelan jawa.

Tarian warok jenggot gembel dieng merupakan salah satu seni tari yang masih di pertahankan hingga sekarang, dan hanya di pentaskan pada saat event tertentu saja. dan bagi anda jangan ketinggalan juga untuk menyaksikan aksi dari pasukan jenggot gembel yang hanya di jumpai di dataran tinggi dieng. selain di mainkan oleh orang dewasa , tarian tersebut sering di mainkan oleh anak -anak sekolah dasar sebagai ekstrakurikuler serta sebagai pengenalan arti penting budaya jawa yang harus selalu di jaga dan di lestarikan oleh generasi muda.

Acara Ruwat Rambut Gembel Dieng

ruwat

Sebuah tradisi turun temurun di sekitar lereng pegunungan dieng dan sindoro masih berlangsung hingga sekarang. Acara pencukuran atau ruwatan untuk anak-anak yang mengalami kelainan pada rambutnya yaitu gembel, yang mana rambut gembel di anggap sebagai titipan yang harus di kembalikan kepada sang pemiliknya.

Budaya pencukuran rambut gembel yang di lakukan di perkampungan memang cukup sederhana sekali misal ketika si anak sudah ingin di cukur dan meminta hadiah kepada orang tua atau saudara maka rambut tersebut bisa tumbuh normal kembali. Dan rangkaian ruwatan yang di awali dengan memberikan permintaan si anak dan melakukan syukuran , kemudian melarungkan rambut gembel tersebut ke aliran sungai yang mengalir.

Seperti kebiasaan yang ada di tengah -tengah masyarakat dieng apabila ada dari seorang anak gembel yang akan di cukur , tetangga di sekitar rumah juga di undang sebagai saksi ruwatan itu, tetangga yang di undang juga berkewajiban memakai uang koin ( receh ) yang nantinya akan di berikan kepada si anak tersebut, kemudian si anak yang sudah di potong rambutnya akan mengelilingi para tamu undangan sambil membawa piring atau mangkuk yang akan di isi oleh para tamu. setelah prosesi selesai maka acara penutup dengan do’a dan makan bersama ( kenduri )

Seiring dengan kemajuan jaman bahwa anak berambut gembel menjadi sebuah legenda di dataran tinggi dieng. sehingga kelompok -kelompok sadar wisata di dataran tinggi dieng mengangkat tradisi ruwat rambut gembel untuk dalam sebuag acara tahunan dengan acara intinya yaitu pencukuran rambut gembel  secara kolosal ( pekan budaya ) atau event Dieng Culture Festival ( DCF ).

Dalam event tersebut acara ruwat rambut gembel di kemas apik melalui beberapa tahap prosesi seperti napak tilas, arak-arakan, jamasan,  pencukuran, ngalap berkah , dan terakhir pelarungan. acara dieng culture festival juga menjadi serbuan wisatawan yang hendak berkunjung ke pegunungan dieng untuk menyaksikan langsung proses ruwat rambut gembel tersebut.

 

 

Misteri Anak Gembel Dieng

 

anak gembel dieng

Fenomena unik di dataran tinggi Dieng yang tidak di temukan di daerah lain di Indonesia. Sebuah Legenda yang menjadi historis di masyarakat pegunungan tinggi Dieng , anak Gembel ( Bajang ) hingga kini masih menjadi misteri tentang awal mula keberadaannya. Bagi penduduk di lereng gunung dieng dan gunung Sindoro mungkin sudah tidak menjadi hal yang asing lagi di mata masyarakat .

Namun dewasa ini anak berambut Gembel atau anak bajang kian populer bagi sebagian orang yang baru melihat ketika, berkunjung ke dataran tinggi dieng. Anak – anak kecil yang berusia satu hingga tujuh tahun memiliki keunikan pada rambutnya. Cerita yang beredar di penduduk setempat ternyata anak yang mempunyai rambut gembel bukan menjadi sesuatu yang aneh namun justru mendapat perlakuan yang istimewa , penuh perhatian dan kasih sayang.

Si anak akan meminta sesuatu atau hadiah bila, rambut gembelnya akan di Ruwat ( cukur ) agar dengan harapan nantinya si rambut gembel tersebut tidak tumbuh lagi pada si anak, tradisi ruwatan atau cukuran di masyarakat juga sudah menjadi salah satu budaya ( tradisi ) peninggalan nenek moyang pendududk lokal dan masih di uri-uri ( jaga ) hingga sekarang ini.